Membangun Rumah yang Aman di Era Digital, Keluarga Didorong Menjadi Benteng Pertama Perlindungan Anak
Lead: Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital, keluarga dinilai memiliki peran yang semakin strategis dalam membentuk karakter sekaligus melindungi anak dari berbagai risiko di dunia maya. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan sosialisasi bertajuk “Rumahku, Ruang Amanku: Membangun Kehangatan Keluarga di Era Digital” yang menghadirkan Anggota DPRD Jawa Timur Fraksi PKB,Hajjah Lailatul Qodriyah, M.Pd, .Acara ini di hadiri 125 peserta dari Gucialit.Berlangsung di cafe Alka,Jalan Srikaya Sukodono.Sabtu,18/7/2026
Isi Berita:
Kegiatan sosialisasi ini menitikberatkan pada pentingnya menjadikan rumah sebagai ruang yang aman, nyaman, dan penuh kehangatan bagi setiap anggota keluarga. Dalam era digital, tantangan yang dihadapi orang tua tidak lagi sebatas memenuhi kebutuhan fisik anak, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka agar anak mampu menggunakan teknologi secara bijak.
Lailatul Qodriyah menjelaskan bahwa kemajuan teknologi membawa banyak manfaat bagi dunia pendidikan dan komunikasi. Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut juga menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari paparan konten negatif, perundungan siber (cyber bullying), hingga kecanduan gawai yang dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak.
“Rumah harus menjadi tempat paling aman bagi anak untuk tumbuh, belajar, dan menyampaikan setiap persoalan yang mereka hadapi. Kehangatan keluarga menjadi fondasi utama dalam menghadapi tantangan di era digital,” ujarnya.
Menurutnya, orang tua perlu meningkatkan literasi digital agar mampu mendampingi anak dalam menggunakan internet secara sehat. Pendampingan tersebut tidak cukup dilakukan melalui pembatasan penggunaan gawai, tetapi juga dengan membangun hubungan yang harmonis dan saling percaya.
Ia menambahkan, komunikasi yang intensif antara orang tua dan anak menjadi kunci dalam mencegah berbagai dampak negatif perkembangan teknologi. Dengan demikian, keluarga tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang pendidikan karakter yang mampu menanamkan nilai-nilai tanggung jawab, empati, dan etika dalam kehidupan digital.
Kegiatan sosialisasi berlangsung dengan antusias. Peserta aktif berdialog mengenai berbagai persoalan yang dihadapi keluarga di tengah perubahan sosial akibat perkembangan teknologi informasi. Beragam pertanyaan dan pengalaman yang disampaikan peserta menjadi gambaran bahwa isu perlindungan anak di ruang digital merupakan perhatian bersama.
Melalui sosialisasi tersebut, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya menciptakan lingkungan keluarga yang hangat, aman, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Dengan kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan masyarakat, keluarga diharapkan mampu menjadi benteng utama dalam membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi digital.(D.S)































