Selasa, hari ini 21/7/2026
Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) menggelar Pelatihan Dukungan Psikologi Awal (DPA) bagi Anak dan Remaja di Kecamatan Coblong. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader Posyandu, PKK, serta unsur masyarakat dalam mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis pada anak dan remaja sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Pelatihan memperkenalkan konsep Dukungan Psikologi Awal (DPA) sebagai langkah pertama dalam membantu anak maupun remaja yang mengalami tekanan emosional, peristiwa traumatis, ataupun persoalan sosial. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan mampu memberikan pendampingan awal sebelum anak memperoleh layanan profesional apabila diperlukan.
Lurah Tamansari, Asep Ahmad Arifin, S.E., mengatakan kegiatan ini sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi masyarakat di tengah pesatnya perkembangan era digital.
“Alhamdulillah hari ini kami membuka Pelatihan Dukungan Psikologi Awal untuk anak dan remaja yang diselenggarakan Pemerintah Kota Bandung melalui DP3A. Program ini sangat penting mengingat perubahan di era digital, digitalisasi, dan globalisasi berlangsung sangat cepat. Karena itu masyarakat harus memiliki kesiapan mental, sosial, sekaligus mampu bersikap bijak dalam menggunakan internet serta menyaring berbagai informasi yang diterima,” ujarnya.
Menurut Asep, ilmu yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan di lingkungan masing-masing sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Pesertanya terdiri dari kader Posyandu, PKK, dan unsur masyarakat. Harapannya mereka mampu memberikan edukasi mulai dari lingkungan keluarga hingga masyarakat luas, sehingga dukungan psikologis awal dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan berbagai persoalan yang dihadapi anak dan remaja,” katanya.
Sementara itu, Dani Daniswara, S.E. dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menegaskan bahwa perlindungan perempuan dan anak tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata, melainkan membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah, masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan unsur legislatif menjadi kunci agar berbagai program pemberdayaan mampu melahirkan gerakan nyata yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Selama pelatihan, peserta mengikuti diskusi interaktif mengenai tantangan pengasuhan di era digital, komunikasi efektif dalam keluarga, pencegahan kekerasan terhadap anak, hingga cara mengenali gejala awal gangguan psikologis pada anak dan remaja.
Kegiatan ini juga memperkuat peran kader Posyandu yang kini tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik ibu dan anak, tetapi juga diarahkan untuk mendukung kesehatan mental keluarga sebagai bagian dari pelayanan berbasis masyarakat.
Melalui pelatihan tersebut, Pemerintah Kota Bandung berharap dapat membangun lingkungan yang lebih responsif terhadap persoalan psikologis anak dan remaja. Dengan keterlibatan keluarga, masyarakat, dan pemerintah secara bersama-sama, diharapkan lahir generasi yang sehat, tangguh, berkarakter, dan siap menyongsong terwujudnya Indonesia Emas 2045.

































