PT Hopson Diduga Tak Peduli Sanksi Pemerintah, Aktivitas Pabrik Kembali Tertangkap di Rikit Gaib

NUSA UPDATE

- Redaksi

Minggu, 24 Mei 2026 - 22:22 WIB

5070 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

GAYO LUES | Siang itu Minggu, 24 Mei 2026, angin perbukitan Gayo Lues membawa aroma tajam dari cerobong yang kembali menghitamkan langit Kecamatan Rikit Gaib. Pabrik PT Hopson Aceh Industri, yang dinyatakan dibekukan sejak putusan rapat lintas instansi awal Mei lalu, lagi-lagi ketahuan beroperasi di bawah terik matahari. Tiada sembunyi. Segala keputusan resmi hanya jadi deretan kata di atas kertas; mesin pabrik berdengung tanpa mengindahkan perintah penghentian.

Keberanian ini bukan peristiwa tunggal. Sudah beberapa kali, aktivitas produksi PT Hopson tetap berjalan meskipun hasil rapat bersama pejabat pemerintah Aceh menegaskan penghentian mutlak sampai seluruh dokumen izin dan lingkungan dipenuhi. Ketua Lumbung Informasi Rakyat Gayo Lues, M. Purba, S.H., menilai, insiden ini sudah masuk wilayah pembangkangan terbuka terhadap hukum negara. “Negara dipermalukan; sanksi administratif malah jadi bahan tertawaan. Di mana pengawas, di mana aparat? Kalau semua diam, yang menang jelas bukan hukum,” sindir Purba.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Operasi pabrik di tengah sanksi menjadi potret buruk lemah dan berantakannya rantai pengawasan. Fungsi perizinan, pemantauan, hingga tangan-tangan aparat terhenti hanya sebatas rapat dan pidato. Tidak ada inspeksi dadakan, tak ada garis polisi, dan penyegelan apalagi. Masyarakat hanya bisa menjadi saksi dan korban limbah yang perlahan menghancurkan tanah, air, dan kesempatan mereka memanen tanpa was-was tiap musim. Suara protes dari warga berhamburan, dari petani yang sawahnya gagal panen, dari keluarga yang mulai mengeluhkan bau tak sedap setiap kali limbah mengalir di tepi kebun dan aliran air rumah.

Regulasi sudah terang; sanksi pembekuan mengunci seluruh kegiatan produksi, distribusi, hingga proses administrasi perusahaan. Namun praktik di lapangan seolah mengabadikan pesan: aturan hanya berlaku bagi yang lemah. Barisan pejabat dan pengawas berubah jadi penonton tetap, entah karena kekurangan nyali atau sudah larut dalam logika kompromi. PT Hopson semakin gagah meneguhkan preseden bahwa di Aceh masih ada ruang luas bagi perusahaan yang berani mengambil risiko mencemooh keputusan negara.

Yang terjadi bukan lagi sekadar kelalaian struktural—ini sudah masuk wilayah pembiaran aktif. Sanksi dan perintah pemerintah provinsi diabaikan secara terang-terangan dan terekam bukti visual. Negara gagal menghadirkan ketegasan. Masyarakat kembali dirampas hak atas lingkungan hidup sehat, dan keadilan sosial semakin jauh dari jangkauan petani desa dan anak-anak di sekitar jalur limbah pabrik.

Keadaan ini menyisakan pertanyaan tajam di tengah publik: ada apa sebenarnya di balik pembiaran ini? Siapa yang menikmati kenyamanan dari operasi ilegal, dan apa makna semua rapat serta dokumen jika muaranya hanya jadi permainan waktu bagi perusahaan bandel? Pemerintah Aceh, aparat penegak hukum, dan lembaga pengawas di daerah kini benar-benar diuji keberaniannya di hadapan rakyat sendiri.

Jika negara tidak bergerak setelah pabrik kembali beroperasi di siang bolong, sejarah akan mencatat: di Gayo Lues, hukum dan negara pernah absen ketika dibutuhkan. Ketika suara mesin pabrik lebih didengar ketimbang teriakan warga yang menanggung bau dan air kotor. Ketika aturan hanya dijalankan oleh mereka yang tak punya kuasa, dan keadilan menjadi urusan administrasi tanpa ruh. Jika tidak ada langkah nyata, jangan salahkan bila hari ini—dan hari-hari mendatang—publik akhirnya percaya: hukum lingkungan di Aceh benar-benar sudah dipreteli di tengah siang hari. (TIM MEDIA)

Berita Terkait

Polres Gayo Lues Pastikan Akses Darurat Tetap Terbuka Meski Jembatan Aih Bobo Terputus
Brimob Polda Aceh, Tangguh Dan Tulus Mengayomi Masyarakat Gayo Lues
Mabes Polri Didesak Ambil Sikap, Dugaan Aktivitas Ilegal PT Hopson Jadi Perhatian Publik
Jika Larangan Tak Lagi Dihormati, Kasus PT Hopson Aceh Industri Bisa Menjadi Preseden Buruk bagi Penegakan Hukum di Aceh
Dugaan Aktivitas PT Hopson di Tengah Sanksi, Warga Pertanyakan Keberanian Aparat Bertindak Nyata
Pasca Pembekuan Operasional, PT Rosin Diduga Tetap Jalankan Produksi Getah Pinus, Polda Aceh dan Mabes Polri Didesak Turun
Tangkap dan Penjarakan Pelaku Pembangkangan terhadap Keputusan Pembekuan PT Rosin dan Dua Pabrik Lain
Nama Baru PT Rosin Tak Menghapus Catatan Lama soal Lingkungan, Pajak, dan Produksi

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 16:28 WIB

Program Manunggal Air Kodim Abdya di Padang Bak Jok Capai Progres Signifikan, TNI dan Warga Gotong Royong Tegakkan Tower Air

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:41 WIB

Petani Desa Cinta Makmur Bersyukur, Jembatan Beton Baru Permudah Angkut Hasil Perkebunan

Minggu, 26 Juli 2026 - 16:51 WIB

Dukung Ekonomi Desa, TNI AD Kebut Pembangunan Jembatan Beton di Kecamatan Tangan-Tangan

Minggu, 26 Juli 2026 - 14:16 WIB

Babinsa Koramil Blangpidie Kawal Progres Sumur Bor, Air Bersih Segera Mengalir ke Permukiman Warga

Jumat, 24 Juli 2026 - 08:58 WIB

Program Manunggal Air Bersih Kodim Melesat, Pembangunan Tower Air di Lima Desa Dimulai

Kamis, 23 Juli 2026 - 18:12 WIB

Dandim Abdya Resmikan 3 Jembatan Beton, Siap Dongkrak Laju Ekonomi Desa

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:43 WIB

Prajurit Kodim Abdya Bersama Warga Kebut Pembangunan Sumur Bor di Lima Desa, Tempat Wudhu Mulai Dibangun

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:32 WIB

Bangun 3 Jembatan di Abdya, Kodim 0110 Perkuat Akses Petani dan Dorong Ekonomi Desa

Berita Terbaru

error: Content is protected !!