WALHI Jabar: PTLSa Solusi Palsu, Kembalikan Penanganan Sampah ke Hulu
*BANDUNG* – Diskusi Ilmiah PSEL Bandung Raya yang digelar Komisi IV DPRD Jabar bersama WALHI Jabar, Selasa 9/6/2026, jadi momentum menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Direktur Eksekutif WALHI Jabar, Kang Iwang, menegaskan diskusi ini bentuk ajakan kolaborasi multipihak. Ada legislatif, eksekutif, praktisi, hingga jaringan nasional-internasional yang hadir. Sayangnya, KLHK dan Gubernur Jabar tidak hadir.
“Semangatnya tetap sama: mencari solusi nyata, bukan solusi yang menambah masalah,” ujar Iwang.
1. Tolak PTLSa, Itu “Solusi Palsu
WALHI Jabar menolak skema Pembangkit Listrik Tenaga Sampah. Alasannya: 21 tahun pasca tragedi Leuwigajah, pemerintah masih mengandalkan teknologi bakar. Padahal pendekatan itu tidak menyentuh akar masalah.
“PTLSa kami sebut solusi palsu. Dia tidak mengatasi sampah, hanya menumbuhkan masalah baru. Harganya mahal, berpotensi koruptif, dan berdampak ke lingkungan,” tegas Iwang.
Ia mengingatkan, peta jalan Jastrada Jabar jelas mengamanatkan penanganan sampah dari hulu/dari sumber. Tapi faktanya, pendekatan teknologi thermal yang terus didorong.
2. Sarimukti Overload, Harus Ditutup
Sampah organik masih masuk ke Sarimukti. Akibatnya, TPA itu overload dan rawan kebakaran karena gas metana tinggi.
“Kalau organik masih masuk Sarimukti, tidak salah kalau TPA itu rentan terbakar. Sudah saatnya Sarimukti ditutup. Jangan tambah beban lagi,” kata Iwang.
Ia minta ada dialog partisipatif-transparan soal nasib Sarimukti dan TPS sementara seperti Caringin. Harus ada timeline jelas, pendekatannya bukan teknologi bakar, tapi pemilahan dari sumber.
3. Rangkul Pejuang Sampah: Pemulung
WALHI menyorot nasib pemulung yang selama ini jadi “pahlawan sampah” tapi dipandang sebelah mata. Padahal merekalah yang paling nyata mengurangi sampah di Bandung Raya.
“Pemerintah tidak pernah meletakkan pemulung sebagai pejuang sejati. Padahal mereka membantu pemerintah tanpa disadari. Rangkullah mereka, ajak dialog, dengar harapan mereka,” pinta Iwang.
4. Desak KDM Batalkan Teknologi Bakar
WALHI Jabar mendesak Gubernur Jabar Dedi Mulyadi untuk tidak menjalankan PTLSa, insinerator, atau teknologi bakar apapun.
“KDM paham kondisi alam Jabar sudah krisis. Jangan bebani bumi lagi dengan teknologi yang merusak. Kalau ada solusi lain yang tidak menimbulkan masalah baru, itu yang harus diupayakan,” ujar Iwang.
Ia menutup dengan harapan: Pemerintah Provinsi, Kabupaten/Kota harus memanusiakan pejuang sampah. Letakkan mereka sebagai aktor utama, bukan warga kelas dua.
“Karena merekalah yang selama ini benar-benar mengatasi sampah dan membantu pemerintah,” pungkasnya.
(*) **






























